Kabar Dari Desa | Desa Gelaranyar | -->

ads

Gula Semut merupakan pemanis alami dari nira pohon kelapa. Tanaman kelapa banyak tumbuh subur di Kabupaten Kebumen. Di beberapa wilayah, sebagian petani bermata pencaharian dari menyadap  nira sebagai bahan membuat gula kelapa.

Gula semut sebenarnya sama dengan gula merah/gula kelapa cetak, hanya bentuknya saja yang berbeda. Dinamakan gula semut karena bentuknya seperti sarang semut di tanah. Sebagian orang menyebut gua kristal atau Crystal Coconut Sugar karena berbentuk seperti butir butir kristal. Juga palm sugar karena terbuat dari nira kelapa yang termasuk dalam tumbuhan Palmae ( Palma). Ada juga yang menyebut Brown Sugar karena warnanya kecoklatan. Tetapi saat ini banyak gula tebu coklat yang diberi label Brown Sugar.

Pasar gula semut di beberapa negara maju terus meningkat seiring dengan tumbuhnya kesadaran akan pangan sehat. Dengan  index glisemix dan kalori yang lebih rendah, gula semut menjadi pemanis yang lebih sehat dan aman dikomsumsi dibanding gula tebu. Beberapa orang juga mempercayai sebagai obat herbal. Selain itu juga mengandung mineral, vitamin dan nutrisi lain. Gula semut juga jauh lebih praktis untuk digunakan sebagai pemanis makanan dan minuman.

Selain untuk pemanis minuman teh, kopi dan lainnya, gula semut juga dapat digunakan untuk pemanis makanan dan jajanan. misalnya saja jenang, gethuk, dodol, nopia, dawet dan lainnya. Dengan rasa dan aroma  karamel memberikan cita rasa yang khas pada makanan. Ada juga beberapa makanan dan minuman tradisional yang membutuhkan warna kecoklatan yang khas dari gula semut untuk menambah cantik tampilannya.

May 11, 2020

Gula Semut Moyang adalah gula semut (gula semut itu apa, sih? Klik di sini ) yang diproduksi oleh CV. Agroberdikari, sebuah perusahaan lokal yang berbasis di Kabupaten Kebumen. Berdiri sejak 2013, CV. Agroberdikari bergerak di bidang pengolahan hasil pertanian organik khususnya gula semut yang diberi merk “Moyang”. Dalam proses produksi gula semut Moyang, CV. Agroberdikari bekerja sama dengan petani gula semut di dua desa di Kecamatan Buayan dan Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen.

Pengolahan gula semut Moyang menerapkan prinsip perusahaan sosial (bagaimana skemanya? Klik disini ). Sejumlah 170 petani menjadi partner atau rekan kerja CV. Agroberdikari di awal berdirinya dan sekarang berkembang menjadi lebih dari 300 petani yang terlibat dalam pengolahan gula semut Moyang.

Gula semut Moyang sudah memiliki biar PIRT & tunjangan profesi halal menurut MUI. Selain itu, dari tahun 2014 gula semut Moyang pula telah mengantongi sertifikasi organik dari EU (European Union) & USDA (United States Department of Agriculture) buat pengembangan ekspor. Hingga waktu ini gula semut Moyang telah bekerja sama dengan eksportir untuk pengiriman produk ke sejumlah negara di Asia dan Eropa dan Amerika Serikat. Gula semut Moyang siap menjadi produk lokal yang diakui menjadi komoditas ekspor.

Gula Semut Moyang kemasan pouch

Gula semut Moyang waktu ini dipasarkan pada kemasan yg menarik dan diproses secara bersih agar bisa tahan lama tanpa pengawet buatan. Tersedia bungkus pouch, toples, & tabung yg dibagi menjadi tiga ukuran:

1. Kemasan 250 gr

dua. Kemasan 300 gram

tiga. Kemasan 500 gr

Di bawah manajemen CV. Agroberdikari, gula semut Moyang terus melakukan kontrol kualitas melalui divisi Internal Control System (ICS) yang berpengalaman. Kontrol kualitas gula semut Moyang meliputi penanaman dan perawatan tanaman kelapa di kebun organik, produksi di petani (tahapan produksi klik di sini ), dan pengolahan di warehouse. Kontrol yang ketat menjamin gula semut Moyang menjadi produk organik yang terjaga kualitasnya.

May 11, 2020

Membuat gula semut caranya cukup mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun sebelumnya syarat pertama dalam membuat gula semut adalah kualitas nira yang bagus. Sahabat bisa menilai kualitas nira dari tingkat kejernihan (bening) dan tidak adanya buih. Untuk mendapatkan nira yang berkualitas, petani harus menyadap nira di waktu-waktu khusus. Biasanya petani melakukan penyadapan dua kali sehari, yaitu pagi sekitar pukul 6 dan sore hari sekitar pukul 3. Agar nira hasil sadapan bisa bertahan lama sampai di proses berikutnya, petani menggunakan pengawet alami yang disebutlaru (apa itu laru? Lihat di sini ).

Cara menciptakan gula semut hampir sama dengan cara menciptakan gula cetak. Bedanya, sesudah pemasakan kurang lebih selama empat jam, gula matang & diangkat menurut tungku. Kemudian dilakukan proses pengadukan, pengeringan, sampai pengkristalan. Yang perlu diperhatikan adalah sebelum nira dimasak, pastikan pH (taraf keasaman) nira adalah 6,5 dan disaring menggunakan saringan 150 mesh.

Lebih lebih jelasnya tentang tahapan cara membuat gula semut menjadi berikut:

1. Pengadukan

Pengadukan adalah proses yang dilakukan selesainya nira dimasak di atas tungku sampai matang. Lama pemasakan umumnya empat jam. Setelah matang, nira diangkat dari tungku & diaduk secara teratur terus-menerus. Pengadukan dilakukan memutar & searah, merata ke seluruh sisi agar semua bagian nira mempunyai kekentalan yang sama.

2.  Pengeringan

Selama proses pengadukan, kandungan air dalam nira akan menguap & nira mengering. Setelah mengering, ratakan hingga pinggiran wajan hingga mengeras & memadat. Saat menggumpal & mengeras, iris tipis-tipis nira yg mengeras tersebut sembari mengerik nira yang melekat di pinggiran wajan. Nira yang mengeras & memadat akan pecah sebagai bongkahan-bongkahan akbar.

3. Pengkristalan

Tahapan pengkristalan dilakukan untuk mengubah bongkahan-bongkahan nira yang mengering menjadi butiran halus. Caranya dengan diguser. Maksudnya menghaluskan nira dengan bagian tempurung batok kelapa sampai mendapatkan butiran-butiran halus. Istilahnya diguser, istilah lokal yang muncul karena dilakukan dengan menekan bongkahan nira dengan arah melingkar dan biasanya mengeluarkan bunyiser.. ser..

4. Pengayakan

Nira yang sudah diguser bisa jadi besaran butirannya tidak sama karena bergantung pada tenaga yang digunakan saat prosesguser. Untuk menyamakan ukuran, butiran nira haru diayak menggunakan ayakan ukuran 18 mesh agar sesuai standard mutu.

Cara menciptakan gula semut relatif mudah, kan? Sahabat pula sanggup mempraktekannya sendiri pada rumah. Cara ini pula mampu dilakukan buat aneka macam olahan selain gula semut. Misalnya membuat jamu instan dengan metode kristalisasi menggunakan gula.

May 10, 2020

Industri gula semut melibatkan beberapa pelaku pasar yang saling terhubung dan bekerjasama. Ada  pihak pihak yang dapat terlibat dalam membangun dan mengembangkan industri gula semut.

Model ini adalah bangun kerjasama yg dapat dilakukan oleh petani dan pengusaha mini yg memiliki keterbatasan kapital dalam menjalankan usaha gula semut.

May 10, 2020

Setelah gula semut pada terima berdasarkan petani, Agroberdikari melakukan prosessing lanjutan agar kualitas gula semut sinkron standar. Prosessing tersebut mencakup Grading, Pengayakan (buat menerima mess sinkron permintaan), Oven, Sortir & Packing.

May 10, 2020

Banyak desa pada Indonesia yang mempuyai sumberdaya alam yg melimpah. Namun belum semuanya dapat dikembangkan. Ide & gagasan dibutuhkan buat pengembangan bisnis desa melalui BUMDes. Misalnya bidang pertanian, kuliner, perdagangan, jasa & juga wisata yg ketika ini sedang booming.Dengan adanya BUMDes dibutuhkan desa dapat membentuk bisnis menurut potensinya tersebut & meningkatkan perekonomian rakyat.

Berbicara mengenai potensi gula semut pada Kebumen, Kabupaten ini adalah salah satu wilayah pada Jawa Tengah produsen gula semut. Misalnya saja pada Desa Wonodadi, sekitar 800 an orang ketua keluarga bermata pencaharian menjadi penderes kelapa. Namun, flora kelapa & produk gula kelapanya belum dikelola secara maksimal . Misalnya saja, menggunakan tehnik budidaya yg indah, produksi nira akan dapat semakin tinggi. Dengan diversifikasi produk dari gula cetak ke gula semut juga akan ada kenaikan nilai tambah bagi petani. Hal ini merupakan peluang bagi BUMDes buat menjalin kerjasama dengan petani berbisnis gula semut. Kemiteraan tadi diperkuat disisi pasar sang CV. Agroberdikari. Harapannya, dengan kemiteraan 3 pihak & pembagian kiprah yg saling menguatkan, Petani, BUMDes & Agroberdikari industri gula semut akan semakin bertenaga & berkelanjutan.

Dalam pengembangan gula semut di Kebumen, Agroberdikari melakukan kemiteraan dengan beberapa BUMDes di yaitu BUMDes Berdikari Desa Sempor Kec Sempor, BUMDes Maju Mandiri Desa Giyanti Kec Rowokele dan BUMDes MargoMulyo Desa Wonodadi kec Buayan. Selain pembelian produk gula semut, Agroberdikari juga melakukan pendampingan managemen kelembagaannya.  Kerjasama ini melalui beberapa tahapan, untuk tahun pertama di penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas SDM pengelola BUMDes dalam hal pengembangan gula semut organik. Tahap selanjutnya BUMDes menjalankan pendampingan di petani dan prosessing.

Diharapkan apabila pengelolaan bisnis gula semut berjalan menggunakan baik, maka dapat membantu menaikkan perekonomian rakyat. Petani yg membuat gula semut menerima tambahan penghasilan menurut meningkatnya harga produk. Prosessing gula semut juga bisa menyerap energi kerja sebagai akibatnya warga yg tadinya tidak produktif akan terbantu dengan adanya usaha ini. Masyarakat sanggup bekerja dan menerima penghasilan tetap. Tentunya perekonomian desa menjadi lebih bertenaga.

Foto dokumentasi: Pertemuan Tim Agroberdikari dan BUMDes MargoMulyo Desa Wonodadi

May 09, 2020

Gula Semut Moyang tersedia di beberapa tempat di Kebumen yaitu,

1. Dekranasda

Jl. Indrakila No. 5 Kebumen

2. Roemah Martha Tilaar

Jl. Sempor Lama No. 28 Gombong

May 09, 2020

Matahari mulai meninggi saat Miskun (36 th) seorang penderes dari Kecamatan Rowokele Kebumen mulai menapaki tatar demi tatar pohon kelapa  yang dideres untuk diambil niranya. Itu adalah pohon terakhir dari sebnyak 33 pohon yang dia deres pagi itu. Setelah nira terkumpul semua, sang penderes tersebut pulang ke rumahnya membawa nira yang tersimpan di dalam pongkor - pongkor bambu..

Sesampai dirumah, dia langsung menuju dapur, tempat dimana isterinya sudah siap menyambutnya dan kemudian menuangkan nira yang ada di pongkor ke dalam wajan diatas tungku yang menyala. itulah aktifitas yang selalu dia lakukan tiap hari, pagi dan sore. Jika dia menderes 33 pohon, maka dalam sehari dia memanjat 66 pohon.

Setelah nira sampai dapur, maka sudah menjadi tanggungjawab sang isteri untuk memasak dan mengolahnya sampai menjadi gula semut.Pembagian peran tersebut memang turun temurun dikeluarga penderes kelapa. apabila niranya bagus maka biasanya gulanya juga akan berkualitas, berwarna kuning cerah. Untuk pembuatan gula cetak dan gula semut ada sedikit perbedaan. kalau gula cetak, setelah nira matang, diangkat dari tungku, diaduk ( kebuk ) kemudian dicetak dengan batok kelapa atau cetakan bambu. Sedangkan kalau gula semut, setelah pengadukan, dipinggirkan di pinggir wajan  kemudian digerus hingga menjadi butiran butiran halus. Diwilayah lain terkadang ada gula semut yang dibuat dari gula kelapa cetak. sedangkan di Kebumen gula semut dibuat langsung dari nira yang dimasak. Dari 33 pohon tersebut biasanya dapat mnghasilkan 10 kg gula semut.

Gula semut kebumen rata rata mempunyai warna cerah,.Mungkin karena faktor pegunungan karst yang memang cantik untuk flora kelapa. Pohon kelapa yg tumbuh diantara karst memang terbukti lebih fertile dan membentuk nira lebih poly dibanding dilahan biasa. Lantaran itulah gula semut Kebumen sangat disukai sang banyak orang.

May 09, 2020

Salah satu peralatan untuk membuat gula kelapa adalah tungku. Tungku ini biasanya menggunakan bahan bakar kayu yang didapat dari kebun sekitar rumah. Namun saat ini ketersediaan kayu bakar semakin sedikit dan mahal. Tungku yang baik, selain hemat kayu bakar,  juga mendukung terciptanya kualitas produk yang bersih dan berkualitas. Selama ini banyak pengrajin gula kelapa yang masih menggunakan tungku tradisioanal yang boros bahan bakar dan seringkali mengotori produk dengan abu yang beterbangan.

Kualitas gula kelapa sebenarnya juga sangat dipengaruhi menurut kinerja tungku. Untuk memasak gula kelapa diperlukan panas yang relatif tinggi, 120 - 130 derajat celcius. Selama kurang lebih 4 jam proses pemasakan panas tadi harus konstan dan terus menerus. Jika panas naik turun, maka dapat dipastikan produk gula kurang indah.

Setelah melalui beberapa kali riset, cukup memberikan pembelajaran mengenai tungku dengan model yang lebih efisien. Tim Agroberdikari melakukan perubahan model tungku dengan melakukan modifikasi dikonstruksi tungku sehingga mempunyai kinerja yang cukup baik untuk memasak nira. Bahan pembuatan tungku dapat menggunakan tanah liat atau campuran semen, pasir dan  abu.

Beberapa perubahan yang dilakukan yaitu,

1. Pembuatan runag bakar yang lebih luas

2. Lubang udara masuk dan keluar seimbang sebagai akibatnya peredaran udara panas didalam tungku dapat mengalir dengan baik

tiga. Model atas tungku kedap tertutup wajan sebagai akibatnya abu tidak mengotori nira

4. Sisa pemakaran dialirkan  keluar dapur menggunakan cerobong ventilasi agar asap tidak mencemar udara di dapur

Kinerja tungku baik akan menghasilkan sistem pembakaran yang sempurna, dengan ditandai  yaitu

1. Ruang bakar panasnya optimal,

dua. Abu yg didapatkan sedikit atau habis terbakar,

tiga. Nira cepat matang, yang umumnya kurang lebih 6 jam sebagai 4 jam

4. Asap pembuangan sedikit.

May 08, 2020

Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memberikan daya (empowerin g) atau penguatan (strengthening) kepada masyarakat. Pemberdayaan masyarakat juga diartikan sebagai kemampuan individu yang bersenyawa dengan masyarakat dalam membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan dan bertujuan menemukan alternatif-alternatif baru dalam pembangunan masyarakat (Mardikanto, 2014). Prinsip pemberdayaan masyarakat adalah salah satu prinsip penting yang berusaha diterapkan dalam pendampingan petani gula semut.

Pertanian pada Indonesia kebanyakan masih memakai cara tradisional. Di satu sisi mampu sebagai nilai plus, karena masih memakai cara alami atau organik. Petani gula kelapa juga demikian. Dari proses budidaya tanaman kelapa, panen nira, dan proses produksinya, cara pengelolaan dilakukan secara turun temurun dari orang tua mereka pada anak anaknya. Bisa dikatakan menurut beberapa generasi sebelumnya, proses pengolahan gula kelapa nyaris belum poly berubah.

Gula semut sebagai sebuah komoditas industri pangan membutuhkan penjagaan kualitas dari hulu sampai tingkat konsumen. Mulai budidaya di kebun organik, panen nira, proses transportasi dari kebun ke dapur masak, kondisi dapur, dan peralatan produksi harus memiliki standar kualitas. Pabrik atau perusahaan yang berada dalam satu ruangan atau satu tempat tentu akan lebih mudah menjaga kualitasnya. Tetapi di gula kelapa, tempat produksi tersebar di rumah masing-masing petani. Tempat produksi yang berada di rumah tangga petani ini membutuhkan tim penjaga kualitas dengan model ICS (I n ternal Control System).Petani yang sebelumnya terbiasa memproduksi gula cetak harus menyesuaikan diri dengan cara produksi gula semut, terutama gula semut organik. Misalnya menggunakan bahan alami seperti kulit manggis untuk membuat pengawet nira/laru, kedisiplinan waktu menderes, pemasakan hingga kebersihan peralatan produksi. ICS diturunkan ke dalam teknik-teknik di lapangan yang dilakukan melalui pendampingan petani gula semut.

Pendampingan diperlukan agar petani bisa konsisten menjalankan kontrol kualitas yang berstandar. Dalam pendampingan ini, seorang pendamping  melakukan edukasi dan sosialisasi kepada petani sampai adanya perubahan perilaku  petani dalam menjalankan produksi.  Selain itu pendamping juga mengenalkan teknologi tepat guna misalnya tungku hemat (penggunaannya klik disini ) untuk membantu petani. Pendampingan petani gula semut yang dilakukan tim Agroberdikari sekaligus menjalankan fungsi pemberdayaan masyarakat. Tim Agroberdikari terus berdiskusi dan melakukan berbagai eksperimen tentang bagaimana langkah yang tepat agar petani mempunyai daya dan upaya untuk melakukan perubahan perubahan yang lebih baik. Meskipun perubahan yang dilakukan oleh petani memang tidak bisa instan, tetapi perlu waktu dan intensitas pendampingan yang terus menerus.

Pendampingan petani gula semut tidak hanya dilakukan dalam siang hari, dimana ketika tadi umumnya petani sibuk dengan ativitasnya sehari hari. Mereka menderes kelapa, mencari kayu bakar, mencari rumput buat ternak ambing atau sapi & aktivitas lain. Pekerjaan tadi nir mampu ditinggalkan. Misalnya saja mencari rumput, telah niscaya harus dilakukan karena ternak mereka membutuhkan pakan harian. Menderes juga demikian, jika ditinggalkan sehari saja, hari berikutnya nira sudah terfermentasi dan membusuk. Lantaran itulah jika ada aktivitas lain yg membutuhkan waktu seharian penuh, telah pasti hari itu oleh petani kehilangan pendapatannya. Memahami situasi tersebut, Tim Agroberdikari melakukan pendampingan dengan cara yg lebih fleksibel baik menurut segi ketika maupun metode.

Pendampingan yang dilakukan malam hari membuat tim pendamping lebih mudah dalam menggali informasi karena dukungan suasanya yang santai. Petani akan merasa lebih nyaman karena tidak dikejar kejar waktu untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Melalui bincang-bincang personal, pendamping akan mendapatkan informasi yang tepat dan  semakin memahami bagaimaan persoalan yang dihadapi petani sesungguhnya.

May 08, 2020

Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan jenis tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kelapa termasuk jenis tumbuhan dari famili Palmae dari genus Cocos. Bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan hampir seluruh bagiannya, diantaranya akar, batang daun dan buahnya, sehingga pohon ini sering disebut sebagai pohon kehidupan.

Tanaman kelapa dapat tumbuh optimal pada dataran rendah hingga tinggi. Kondisi topografi yang sesuai adalah pada kemiringan lereng 0 – 40%. Suhu optimum untuk pertumbuhan kelapa adalah 20 – 35ᵒC. Jumlah ketersediaan air tanaman kelapa memiliki curah hujan 1.000 – 5.000 mm, jumlah bulan kering 0 – 6 dan kelembaban udara >50% . Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman kelapa adalah jenis tanah yang memiliki fraksi liat yang dominan seperti liat berpasir, liat, liat berdebu dan lain sebagainya (Ritung, dkk., 2011).

Kabupaten Kebumen terletak antara 7?27? - 7?50? LS & 109?22? - 109?50? BT. Kabupaten Kebumen mempunyai luasan huma 1.281,12 km2, secara administrasi berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara disebelah utara, sebelah barat berbatasan menggunakan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap dan sebelah timur berbatasan menggunakan Kabupaten Purworejo. Suhu udara Kabupaten Kebumen yaitu pada suhu 25 - 27?C & mempunyai curah hujan tiga.917 mm. Kelembaban udara Kabupaten Kebumen adalah 83 ? 89% (Kabupaten Kebumen, 2018). Hal ini memperlihatkan bahwa Kabupaten Kebumen mempunyai potensi untuk pengembangan tumbuhan kelapa.

Potensi tumbuhan Kabupaten Kebumen galat satunya merupakan jenis flora perkebunan yaitu flora kelapa. Produk yg dihasilkan menurut tanaman kelapa, diantaranya buah kelapa & nira yang diolah sebagai gula kelapa. Jumlah pohon kelapa di Kabupaten Kebumen masih ada sebanyak 2.660.895 batang dengan produksi sebanyak 171.234.990 buah (Kabupaten Kebumen, 2018).

Teknik budidaya flora mencakup pembibitan, pengolahan media tanam, teknik penanaman, pemeliharaan tumbuhan dan pengendalian hama penyakit tanaman & pemanenan. Berikut adalah tahapan cara budidaya tanaman kelapa:

1)      Pembibitan

Persyaratan benih kelapa yaitu dari menurut pohon induk yang berumur 20 ? 40 tahun menggunakan karakteristik ? Karakteristik memiliki btg yang kuat dan lurus menggunakan mahkota berbentuk spherical (berbentuk bola), daun & tangkainya kuat dan bebas menurut gangguan hama & penyakit. Ciri butir yang matang buat benih, yaitu ?12 bulan, 4/5 bagian kulit berwarna coklat, bentuk bulat agak lonjong, panjang buah 22 ? 25 centimeter, lebar buah 17 ? 22 cm, buah licin dan mulus, air buah cukup, bila digoncang terdengar suara nyaring. Seleksi benih dilakukan dengan cara mengistirahatkan benih selama ?1 bulan pada gudang dengan syarat udara segar dan kemarau, nir bocor, nir terkena sinar surya & suhu udara pada gudang 25 ? 27?C.

Teknik penyemaian benih dilakukan pada topografi datar, drainase baik, dekat dengan asal air & lokasi penanaman. Persiapan bedengan atau polybag dilakukan menggunakan memasak tanah hingga gembur sedalam 30 ? 40 centimeter menggunakan lebar dua m, tinggi 25 cm dan panjang tergantung huma menggunakan jarak antar bedengan 60 ? 80 centimeter. Polybag terbuat dari polyethylene/poliprophylene berwarna hitam menggunakan ukuran 50x40 cm & tebal 0,dua mm, bagian bawah berlubang diameter 0,lima cm dengan jeda lubang 7,5 centimeter sebesar 48 butir untuk aerasi & drainase dan diisi dengan tanah top soil halus. Kemudian dilakukan pendederan menggunakan menyayat benih selebar ?Lima centimeter dalam tonjolan sabut sebelah tangkai berhadapan sisi terlebar menggunakan indera yang tajam. Tanam benih pada tanah sedalam 2/tiga bagian menggunakan sayatan menghadap keatas & mikrofil ke timur. Penanaman menggunakan posisi segitiga bersinggungan. Setiap satu meter persegi dapat diisi 30 ? 35 benih atau 25.000 butir buat areal 1 hektar. Berikut jangka saat pembibitan;

·         Lama pembibitan 5 – 7 bulan: jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 24.000/ha.

·         Lama pembibitan 7 – 9 bulan: jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 17.000/ha.

·         Lama pembibitan 9 – 11 bulan: jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 1.000/ha.

Jika disemai di bedengan, maka sesudah benih berkecambah (panjang tunas 3 ? 4 centimeter) perlu dipindahkan ke polybag. Persemaian polybag berlangsung selama 6 ? 12 bulan, berdaun ?6 helai dan tinggi 90 ? 100 centimeter. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor setiap dua hari sebanyak 1 kali menggunakan jumlah air sebanyak 5 liter tiap pagi & sore. Untuk mengetahui cukup tidaknya penyiraman, maka sesudah 2 jam pada bagian sayatan ditekan dengan mak jari, jika keluar air maka penyiraman telah relatif. Pembersihan rumput dilakukan buat mencegah adanya inang hama dan penyakit. Pemindahan bibit dilakukan dalam umur 9 ? 12 bulan. Dua sampai 3 hari sebelum dipindahkan akar yang keluar berdasarkan polybag harus dipotong apabila pembibitan dilakukan pada polybag.

Pembibitan flora kelapa

2)      Pengolahan Media Tanam

Persiapan yang dilakukan merupakan persiapan pengolahan tanah & aplikasi survai. Tujuannya buat mengetahui jenis flora, kemiringan tanah, & keadaan tanah. Pembukaan huma dilakukan menggunakan penebasan semak dan penebangan pohon. Sedangkan jika huma bekas pertanian, tidak perlu pembukaan huma & dapat eksklusif dilakukan pengajiran, pembuatan lubang tanam, penanaman legume & tindakan yang lain yg diperlukan selanjutnya. Kemudian melakukan pembentukan bedengan dengan membangun melingkar lokasi menggunakan diameter 200 cm buat mencegah hujan masuk ke leher btg flora bibit. Apabila kondisi tanah masam menggunakan syarat pH 6 ? 8 perlu dilakukan pengapuran buat menurunkan tangkat kemasaman didalam tanah. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan bahan organik dengan berupa pupuk kompos dan pupuk sangkar sebanyak 10 kg/pohon buat tiap lubang (lokasi yang ditanami) menggunakan mencampurkan pada tanah top soil yg berada dalam sebalah utara lubang, kemudian memasukkan tanah tadi pada lubang.

3)      Teknik Penanaman

  • Penentuan pola tanam, dilakukan dengan sistem tanam yang baik yaitu sistem tanam segi tiga, karena pemanfaatan lahan dan pengambilan sinar matahari akan maksimal. Jarak tanam 9x9x9 meter dengan pola ini jumlah tanaman akan lebih banyak 15% dari sistem bujur sangkar.

  • Pembuatan lubang tanam dilakukan paling lambat 1 – 2 bulan sebelum penanaman untuk menghilangkan keasaman tanah dengan ukuran 60x60x60 cm sampai dengan 100x100x100 cm. Pembuatan lubang pada miring >20ᵒ dilakukan dengan pembuatan teras individu selebar 1,25 m ke arah lereng diatasnya dan 1 m ake arah lereng dibawahnya. Teras dibuat miring 10ᵒ ke arah dalam.

  • -    Pemberian mulsa dilakukan setelah ditanam, tanah sekitar tanjaman ditutup dengan mulsa (daun-daunan hijau dari semak-semak, lalang atau rumput-rumputan yang lainnya dan juga jerami).

  • -    Penanaman tanaman penutup dilakukan dengan menanam tanaman legume yang bertujuan untuk menekan gulma dan perkembangan hama serta memperbaiki struktur tanah, mengurangi penguapan, mencegah erosi dan menahan aliran permukaan. Penanaman dilakukan sebelum musim hujan yang bertujuan agar biji penutup tanah tidak busuk.

4)      Pemeliharaan Tanaman

  • Penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang tumbuh kerdil terserang hama dan penyakit dan mati, dilakuka pada saat musim hujan setelah tanaman sebelumnya di cabut pada musim kemarau.
  • Penyiangan dilakukan dengan memotong gulma sampai batas permukaan dengan interval penyiangan 4 minggu sekali (musim hujan) atau 6 minggu sampai 2 bulan sekali (musim kemarau).
  • Pembumbunan dilakukan dengan penimbunan tanah dibagian atas permukaan sekitar pohon hingga menutup sebagian batang pohon yang dekat dengan akar.
  • Perempalan dilakukan terhadap daun dan penutup bunga yang telah kering (berwarna coklat) dengan cara memanjat pohon kelapa atau membiarkan hingga jatuh dengan sendirinya.
  • Pemupukan dengan menggunakan pupuk hijau. Sumber pupuk hijau berasal dari sisa- sisa tanaman (sisa panen) atau tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau. Penanaman tanaman penghasil pupuk hijau dapat dilakukan secarain situmisalnya pertanaman tumpang gilir dengan tanaman utama (contoh:pergiliran tanaman pangan dengan legume penutup tanah). Tanaman penghasil pupuk hijau dapat juga ditanam diluar areal pertanaman utama. Jenis tanaman yang dijadikan sumber pupuk hijau diutamakan dari jenis legum, karena tanaman ini mempunyai kandungan hara (utama nitrogen) yang relatif tinggi dibanding jenis tanaman yang lainnya. Selain itu tanaman ini mudah terdekomposisi, sehingga penyediaan haranya lebih cepat. Menurut palmet al.(2001) bahwa secara garis besar membagi bahan tanaman berdasarkan kualitas, yakni tergolong berkualitas tinggi bila mengandung N paling sedikit 2,5%, kandungan lignin dan polifenol masing-masing <15% dan <4%. Bila diaplikasikan ke dalam tanah (sebagai pupuk hijau), pelepasan N benar-benar dapat terjadi (net release of nitrogen) jika kandungan lignin dan polifenol masing-masing <15% dan <4%. Disisi lain, bahan tanaman yang mengandung N <2,5% tergolong berkualitas rendah, demikian juga halnya bahan-bahan tanaman yang menyebabkan terjadinya imobilisasi N selama terjadinya proses dekomposisi, yakni tanaman yang mengandung lignin dan polifenol tinggi. Salah satu cara untuk menyediakan sumber pupuk hijau secarain situadalah dengan mengembangkan tanaman lorong (alley cropping), dimana tanaman pupuk hijau (berupa tanaman perdu jenis legum) ditanamn sebagai tanaman pagar (hedge grow) berseling dengan tanaman utama (pangan atau perkebunan) sebagai lorong.  Tanaman pagar ini selain menghasilkan bahan organik, selain itu dapat menekan erosi.
  • Penyiraman dilakukan pada musin kemarau untuk mencegah kekeringan yang dilakukan dua atau tiga hari sekali. Hal yang dilakukan dengan cara mengalirkan air melalui parit-parit disekitar bedengan atau dilakukan dengan penyiraman secara langsung. Rata-rata jumlah air yang disiram ±2 l/pohon.
  • Kegiatan pemupukan dilakukan dengan menggunakan bahan organik dengan memanfaatkan sisa tanaman dan kotoran hewan. Penggunaan bahan organik ini bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi didalam tanah. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau , pupuk kandang dan sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung dan sabut kelapa). Berikut adalah macam-macam jenis pupuk organik dan cara pembuatannya:

·         Pupuk Kandang

Pupuk kandang yaitu pupuk berasal dari kotoran hewan (ternak) yang dicampur dengan rumput atau jerami. Pupuk kandang merupakan hasil fermentasi kotoran ternak yang memiliki kandungan N, P2O5dan K2O. Kadar unsur hara pada pupuk kandang yang dihasilkan berbeda-beda, seperti pada pupuk sapi pada wujud 80% padat mengandung 0,55% N, 0,30% P2O5, dan 0,40% K2O, pupuk kambing pada wujud 70% padat mengandung 0,75% N, 0,50% P2O5, dan 0, 45% K2O, pupuk ayam mengandung 1,00% N, 0,80% P2O5, dan 0, 40% K2O. Pupuk kandang yang masih muda atau mentah (belum benar-benar masak) tidak baik untuk dipergunakan. Unsur karbon (C) atau nitrogen (N) pada pupuk kandang yang muda atu mentah masih tinggi dan suhunya masih terlalu tinggi, sehingga akan membuat tanaman menjadi layu. Oleh karena itu, agar pupuk menjadi matang, caranya ialah harus ditimbun lebih lama lagi di tempat yang teduh dan selalu dibalik-balik guna mempercepat proses pembusukannya. Ciri-ciri pupuk kandang yang sudah matang, yaitu jika dipegang pupuk akan terasa dingin, jika diremas pupuk mudah rapuh dan bau kotoran sudah hilang. Berikut adalah cara pembuatan pupuk kandang, yaitu:

o   Cara sistem terbuka

Pada sistem ini kotoran ternak ditimbun pada loka terbuka pada permukaan tanah. Tempat penyimpanan berupa tanah yg ditinggikan & diberi atap. Kelebihan sistem ini yaitu kotoran ternak lebih cepat matang dibandingkan menggunakan menggunakan sistem tertutup. Tetapi, kekurangannya yaitu selama proses penguaraian, bau kotoran ternak akan terbawa angin sebagai akibatnya penyebarannya lebih jauh. Beberapa tipe ternak dalam pengolahan menjadi pupuk pada sistem terbuka, antara lain dalam hewan ternak akbar yaitu seperti sapi dan kerbau. Kotoran sapi akan dikumpulkan & dijemur di loka terbuka selama 2-3 hari. Penjemuran sebaiknya dilakukan di atas pasir. Setelah dijemur, kotoran tersebut ditimbun di loka beratap & tidak berdinding supaya gampang terangin-angin sebagai akibatnya akan lebih cepat matang. Penimbunan sebaiknya dilakukan peninggian loka supaya ketika hujan pupuk tidak terkena aliran hujan. Setelah 2 minggu pupuk sudah matang & siap digunakan. Hewan ternak sedang misalnya domba & kambing. Kotoran domba dikumpulkan dan ditimbun di loka berupa bangunan yang beratap dan tidak berdinding. Ditimbung diatas tanah tanpa diberi alas. Kotoran sebaiknya disiram buat mempercepat terjadinya pembusukan. Kotoran yg bercampur rumput atau gulma sebaiknya disiram buat mempercepat terjadinya pembusukan. Kurang lebih dari satu bulan, kotoran dan rumput telah musnah dan menampakan tanda-tanda kematangan. Maka, sesudah itu kotoran ternak sudah berubah menjadi pupuk & siap buat digunakan. Sedangka pada kotoran ayam akan lebih cepat mengalami kematangan. Lantaran kandungan unsur karbon (C) & nitrogen (N) rendah. Sehingga tidak memerlukan proses penguraian yg usang. Setelah pengambilan kotoran umumnya dilakukan selama 2 minggu ayam dipanen atau diaprikan. Sehingga kotoran sudah mengalami proses penyimpanan didalam sangkar dan kotoran telah mengalami proses penyimpanan pada dalam kandang & kotoran yg diambil berdasarkan kandang biasanya sudah matang paripurna & jika disimpan terlebih dahulu usahakan disimpan didalam karung & ditempatkan pada tempat beratap.

o   Cara sistem tertutup

Pada sistem ini, kotoran ternak ditimbun pada pada lubang yang diberi atap. Kelebihan menurut sistem ini yaitu penyebaran bau dapa dikurangi selama proses penguraian. Sedangkan, kelemahannya yaitu pada proses penyimpanannya membutuhkan saat yang lama & pupuk nir kemarau. Sistem ini efektif digunakan pada ternak besar dan sedang yg produksi kotorannya cukup banyak. Tempat penimbunannya terdiri berdasarkan 2 bagian primer yaitu lubang dan atap. Pertama kotoran dimasukkan kedalam lubang, ukuran lubang tergantung banyaknya kotoran, bila sudah terisi penuh menggunakan kotoran ternak sebanya dalam bagian atas tanah diberi taburan kapur yang telah dihaluskan supaya tidak terjadi pengasaman pupuk. Kemudian ditimbun sang tanah dan dibuat parit kecil disekitarnya agar nir tergenang sang air. Setelah 2-3 bulan, pupuk telah siap dipakai. Aplikasi pupuk kandang umumnya dilakukan sebesar 10kg bahan pupuk kandang pada tiap pohonnya setiap 6 bulan sekali dalam menjelang demam isu hujan dan menjelang animo kemarau.

5) Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati adalah suatu bahan racun yang digunakan untuk membunuh organisme penganggu tanaman dengan menggunakan bahan dasar yang alami dari tumbuhanm seperti daun, batang, akar dan buahnya. Keunggulan pestisida nabati ini sangat murah dan dapat dibuat dengan sendiri oleh petani serta ramah lingkungan. Fungsi pestisida nabati yaitu bersifar reppelan, antifidan, merusak perkembangan telur dan larva, menghambat reproduksi serangga betina dan mampu mengendalikan pertumbuhan jamur dan bakteri (Sri Wahyuni Handayani, dkk., 2017). Berikut pestisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan OPT pada tanaman kelapa adalah membuat pestisida nabati dengan membuat ekstrak dari gadung. Gadung merupakan tanaman yang merambat yang umbinya mengandung alkaloid, yaitu discorin, sedangkan zodiac mengandung evodiamine dan rutaecarpine. Kandungan alkaloid ini membuat gadung memiliki potensi yang tinggi sebagai insektisida nabati. Cara pembuatan ekstrak gadung dengan memarut atau menghaluskan umbi gadung sebanyak 1/2 Kg, kemudian peras hasil gadung yang sudah dihaluskan dan kemudian disaring. Setelah itu hasil perasan dicampur menggunakan air sebanyak 10 liter dan diaduk secara merata. Kemudian ekstrak tersebut disemprotkan pada seluruh bagian tanaman yang diserang pada pagi atau sore hari.

6)   Pemanenan dilakukan dengan mengambil butir buahnya dan menyadap nira kemudian diolah menjadi gula semut. Butir buah umumnya dipanen pada saat buah berumur 1 bulan. Sedangkan nira kelapa dapat disadap pada umur 6 – 8 tahun dengan serta lamanya penyadapan dapat dilakukan selama 25 – 30 tahun. Cairan nira keluar dari bunga kelapa yang pucuknya belum membuka. Cara pemanenannya, ikat tangkai bunga kelapa lalu potong ujung tangkai kelapa setelah diambil cairannya agar cairan nira dapat keluar kembali dengan jumlah yang lebih banyak dengan menaruh wadah dari bahan food grade sebagai wadah nira atau yang biasa disebut dengan pongkor. Frekuensi penyadapan dilakukan sehari 2 kali setiap pagi dan sore hari. Pohon kelapa dapat menghasilkan nira sebanyak 1 – 2 liter pada sore hari, sedangkan pagi hari dapat menghasilkan 1,5 – 4 liter di pagi hari.

Proses pemanenan nira

Penulis: Ega Apriliana/Research and Development Agroberdikari

May 08, 2020

Kabupaten Kebumen merupakan salah satu sentra produksi gula kelapa. Kurang lebih sekitar 20 ribu KK bermatapencaharian sebagai penderes kelapa. Produk yang dihasilkan dari tanaman kelapa yaitu berupa nira yang diolah menjadi gula semut maupun gula cetak. Analisis usaha tani merupakan kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Berdasarkan analisis usaha tani, berikut rincian anggaran pemasukan dan pengeluaran seorang penderes dalam melakukan kegiatan usaha gula kelapa;

Tabel 1. Biaya Tetap

Biaya tetap usaha gula kelapa yaitu sebesar Rp. 1.428.500,- (Tabel 1). Biaya tetap adalah biaya yang tidak berbeda seiring dengan adanya perubahan kuantitas pada unit produksi. Biaya tetap tergantung waktu, yaitu tetap konstan dalam suatu periode.

Tabel 2. Biaya Variabel

Biaya variabel usaha gula kelapa yaitu sebesar 8.302.000,- (Tabel 2). Biaya variabel adalah biaya yang bervariasi seiring dengan perubahan pada jumlah unit produksi. Biaya variabel tergantung volume, yaitu berubah dengan adanya perubahan volume dan tetap konstan pada tiap unitnya.

Tabel 3. Total Biaya

Total biaya yang dibutuhkan dalam usaha gula kelapa yaitu sebesar Rp.9.730.500,- (Tabel 3). Pemasukan penderes dalam mengolah nira menjadi gula semut dan gula cetak memiliki keuntungan yang sangat berbeda. Setiap bulannya dengan menanam 30 pohon mampu menghasilkan gula sebanyak 225 kg/bulan. Apabila mengolah menjadi gula semut mampu mendapatkan pemasukan Rp. 43.200.000,-, sedangkan apabila diolah menjadi gula cetak mendapat penghasilan sebesar Rp.32.400.000,- dalam kurun waktu selama satu tahun (Tabel 4).

Tabel 4. Pendapatan Penderes

Revenue cost ratio merupakan metode analisis untuk mengukur kelayakan usaha dengan menggunakan rasio penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Analisis kelayakan usaha digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian usaha dalam menerapkan suatu teknologi. Adapun kriteria hasil sebagai berikut:

  • R/C>1, berarti usaha sudah dijalankan dengan efisien ataupun menguntungkan.
  • R/C=1, berarti usaha yang dijalankan dalam kondisi titik impas atau break event point.
  • R/C<1, berarti usaha tidak efisien dan tidak layak serta tidak menguntungkan

Tabel 5. Analisis Penderes Gula Kepala berdasarkan Analisis R/C

Berdasarkan analisis revenue cost ratio bahwa penderes kelapa memiliki nilai >1 yang memiliki nilai usaha yang efisien dan menguntungkan dalam mengolah nira menjadi suatu produk beruapa gula semut maupun gula cetak. Namun memiliki keuntungan yang sangat jauh berbeda, apabila diolah menjadi gula cetak dalam satu tahun dengan jumlah sebanyak 30 pohon yang dideres mampu menghasilkan laba sebesar Rp.22.669.500,-, sedangkan apabila diolah menjadi gula semut mampu menghasilkan laba sebesar Rp.33.469.500,-. Selisih antara gula semut dan gula cetak sangatlah jauh berbeda apabila penderes mengolah menjadi gula semut mampu meraup keuntungan yang lebih dibanding menjadi gula cetak dengan mencapai keuntungan lebih sebesar Rp.10.800.000,- dalam satu tahun produksi.

Penulis: Ega Apriliana/Research and Development Agroberdikari

May 07, 2020

Nira kelapa adalah cairan bening yang keluar dari bunga kelapa yang pucuknya belum membuka. Cairan ini merupakan bahan baku dalam pembuatan gula (baca proses pembuatan gula semut di sini ). Nira yang segar mempunyai rasa manis berbau harum dan tidak berwarna. Pengambilan nira kelapa dimulai dengan cara menyadap mayang bunga kelapa yang berumur satu bulan atau bulan mekar. Nira keluar, ditampung dalam pongkor atau yang biasa kita sebut wadah jerigen yang dipasang di bawahnya.

Nira kelapa sangat mudah mengalami fermentasi karena mengandung sukrosa yang tinggi. Jika nira tidak langsung diolah setelah penyadapan, maka warna nira akan berubah menjadi keruh ke kuning-kuningan, terasa asam dan baunya menyengat. Hal ini disebabkan oleh terjadinya pemecahan sukrosa menjadi gula reduksi. Proses pemecahan sukrosa tersebut karena rendahnya derajat keasaman (pH) nira. Karena itu penderes gula merah perlu melakukan penambahan pengawet ke dalam wadah atau pongkor untuk mempertahankan nira sehingga tidak terjadi proses fermentasi khamir dan bakteri yaituS. cerevisiae, L. mesenteroides,danL. plantarum.

Pada umumnya penderes menggunakan zat pengawet nira yaitu bahan sulfit (SO2) . Sulfit sangat tidak baik digunakan dikarenakan berasal dari bahan kimia dan dapat mengganggu pernafasan penderes pada saat menyadap nira. Sebagai solusi pertanian organik berkelanjutan yang ramah lingkungan dalam pengawetan nira secara alami yaitu dapat dilakukan dengan membuat laru sebagai bahan pengawet alami.

Laru merupakan bahan pengawet nira yang berasal dari bahan alami tumbuh-tumbuhan. Bahan pengawet ini dibuat dari kulit buah manggis, kayu nangka, dan kapur. Kulit manggis menurut Naufalin,dkk(2012), memiliki efektivitas tinggi dalam mempertahankan kualitas nira kelapa selama penyimpanan. Selain itu, kulit manggis memiliki aktivitas antimikroba dan atioksidan. Kulit nangka memiliki peran sebagai penghambat fermentasi karena di dalam kulit nangka terdapat senyawa tannin, alkaloid, saponin, dan flavonoid.

Tannin mempunyai sifat atau daya bakterostatik, fungistatik, dan merupakan racun. Saponin merupakan racun bagi binatang berdarah dingin tetapi tidak beracun bagi manusia. Alkaloid adalah senyawa pahit yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri (Robinson, 2015). Flavonoid digunakan sebagai anti bakteri, anti alergi, sitotoksik, dan anti hipertensi (Sriningsih, 2008).  Kapur dapat mempertahankan pH  nira tetap tinggi yang disebabkan oleh OH-, sehingga dapat menghambat terjadinya hidrolisa baik oleh jasad renik maupun pengaruh asam (Erwinda, 2014).

Laru dibentuk dengan mencincang kasar 2 kg kayu nangka & kulit manggis yg masih segar. Kemudian semuanya dimasukkan ke pada wadah penyimpanan. Larutkan 1 kg kapur sirih atau kapur tohor dengan 2 liter air panas yang baru mendidih. Lalu tuangkan air kapur ke pada wadah berisi cincangan kayu nangka dan kulit manggis. Kemudian tutup hingga rapat. Simpan dalam suhu kamar selama 3 hari & diaduk setiap hari satu kali. Jika laru sudah habis bisa dipakai kembali sebesar satu kali dengan menambahkan larutan kapur, lalu simpan lagi selama tiga hari. Cara aplikasi laru ini dapat dilakukan menggunakan cara memasukkan laru sebanyak 250 cc ke dalam pongkor atau penampungan nira yg akan digunakan. Jumlah pengawet ini dapat menampung sebanyak 10 liter nira. Apabila perlu bisa sesuaikan jumlah laru sesuai perkiraan jumlah banyaknya nira.

Penulis: Ega Apriliana/Research and Development Agroberdikari

May 07, 2020

Kemasan 10 kg

Kemasan 20 kg menggunakan dus

Kemasan 25 kg

May 07, 2020

Untuk mempertinggi kapasitas petani, agroberdikari menginisiasi acara belajar bagi petani dg nama Gerakan Pendidikan Petani Gula Semut (GENDHIS).

Program yang dimulai bulan Januari 2019 ini, termin ke 1 diikuti oleh 38 petani gula semut Desa Wonodadi menggunakan saat pembelajaran setiap bulan sekali selama 1 tahun. Selama 1 tahun tadi, peserta menerima asisstensi berdasarkan tim Pendamping Agroberdikari.

Dalam acara ini, beberapa materi yang disampaikan yaitu Pertanian Organik, Tehnik Produksi Gula Semut, Standar Keamanan Pangan, Penjaminan Mutu dengan ICS, Managemen Ekonomi Rumah Tangga & sebagainya.

Beberapa pegiat gula semut akan sebagai narasumber pelatihan ini dantaranya yaitu Kukuh Haryadi S.P. MM (Pendamping Plut Jateng), Tutu Septiana, Ega Apriliana & narasumber lain.

Dengan training tersebut diperlukan petani gula semut memiliki kemampuan dalam pengelolaan usaha pertanian sebagai akibatnya dapat menaikkan produktifitasnya.

May 06, 2020